perbankan syariah serta produk-produknya-lanangtaruna

I.PERBANKAN SYARIAH

Perbankan syariah atau perbankan islam adalah suatu system perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah (hokum) islam.Usaha pembentukan system ini didasari oleh larangan dalam agama islam untuk memungut maupun meminjam dengan bunga yang disebut dengan riba serta larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikatagorikan haram (missal;usaha yang berkaitan dengan produksi makanan/minuman haram,usaha media yang tidak islami dll),dimana hal ini tidak dapat di jamim oleh system perbankan konvensional.

Prinsip perbankan syariahtelah diterapkan dengan aturan perjanjian berdasarkan hukum islam antara bank dengan pihak lain untuk penyimpanan dana dan pembiayaan unit usaha atau kegiatan lainnya yang sesuai dangan syariah islam.

Fungsi-fungsi bank sudah di praktikkan oleh para sahabat di jaman Nabi MUHAMMAD SAW, yakni menerima simpanan uang.namun biasanyasatu orang hanya melakukan satu fungsi saja.Baru kemudian di jaman Bani Abbasiyah ketiga fungsi perbankan dilakukan oleh  satu individu.

v  PRINSIP PERBANKAN SYARIAH

PrInsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hokum islam antara bank bank dan pihak lain untuk penyimpana dana ataupembiayaan kegiatan usaha atau kagiatan lainnya yang sesuai dengan syariah islam.

Beberapa  prinsip /hukum yang dianut oleh system perbankan syariah antara lain :

a)      Pembayaran terhadap pinjamam dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman dengan nilai ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.

b)      Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai akibat hasil usaha intitusi yang meminjam dana.

c)      Islam tidak memperbolehkan “menghasilkan uaang dari uang”.uang  hanya merupakan media dan bukan komoditas.

d)      Unsur gharar (ketidakpastian spekulasi) tidak diperkenankan.kedua  belah pihak harus mengetahui dengan persis hasil yang akan mereka peroleh dari sebuah transaksi.

e)      Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak di haramkan dalam islam.usaha minuman keras misalnya tidak boleh didanai oleh perbankan syariah.

v  CIRI-CIRI PERBANKAN SYARIAH

Berikut beberapa ciri dari bank syariah antara lain :

a)      Hubungan bank dengan nasabah adalah hubungan kontrak (akad) antara investor pemilik dana (shohibul maal) dengan investor penggelola dana (mudharib) bekerja bersama-sama untuk melakukan kegiatan yang produktif dan sebagai keuntungan dibagi secara adil (mutual investment relationship) .dengan demikian dapat terhindar hubungan yang eksploitatif antara bank dengan nasabah begitu juga sebaliknya.

b)      Adanya larangan-larangan kegiatan usaha tertentu oleh Bank syariah yang bertujuan untuk menciptakankegiatan perekonomian yang produktif (larangan menumpuk harta) benda (sumber daya alam) yang dikuasai sebagian kecil masyarakat dan tidak produktif,menciptakan perekonomian yang adil (konsep usaha bagi hasil dan bagi resiko) serta menjaga lingkungan dan menjunjung tinggi moral (larangan untuk proyek yang merusak lingkungan,sarana judi dll).

c)      Kegiatan usaha bank syariah lebih variatif disbanding bank konvensional,yaitubagi hasil system jual beli serta menyediakan jasa lain yang tidak bertentangan dengan nilai dan prinsip syariah islam.

v  TUJUAN BERDIRINYA PERBANKAN SYARIAH

Ada beberapa tujuan dari perbankan Islam.diantara para ilmuwan dan para propesional Muslim berbeda pendapat mengenai tujuan tersebut.tetapi secara garis besar dapat diambil beberapa kesimpulan yakni :

a)      Menyediakan fasilitas keuangan dengan cara mengupayakan instrument-instrumen keuangan (financial instrument) yang sesuai dengan ketentuan dan norma syariah.

b)      Memberikan keuntungan sosial  ekonomi bagi Negara-negara islam pada umumnya danorang-orang muslim pada khususnya.

c)      Mendorong peningkatan produksi dan distribusi barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dalam negri maupun ekspor.

 

II.PRODUK-PRODUK PERBANKAN SYARIAH

 

1.         Al-wadi’ah  (Simpanan)

Al-Wadi’ah atau dikenal dengan nama titipan atau simpanan, merupakan titipan murni dari satu pihak ke pihak lain, baik perorangan maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikain kapan saja bila si penitip menghendaki.

Penerima simpanan disebut yad al-amanah yang artinya tangan amanah. Si penyimpan tidak bertanggung jawab atas segala kehilangan dan kerusakan yang terjadi pada titipan selama hal itu bukan akibat dari kela_laian atau kecerobohan yang bersangkutan dalam memelihara barang titipan.

Penggunaan uang titipan harus terlebih dulu meminta izin kepada si pemilik uang dan dengan catatan si pengguna uang menjamin akan mengembalikan uang tersebut secara utuh. Dengan demikian prinsip yad al-amanah (tangan amanah) menjadi yad adh-dhamanah (tangan penanggung).

Konsekuensi dari diterapkannya prinsip yad adh-dhamanah pihak bank akan menerima seluruh keuntungan dari penggunaan uang, namun sebaliknya bila mengalami kerugian juga harus ditanggung oleh bank.

Sebagai imbalan kepada pemilik dana disamping jaminan keamanan uangnya juga akan memperoleh fasilitas lainnya seperti insentif atau bonus untuk giro wadiah. Artinya bank tidak di_larang untuk memberikan jasa atas pemakaian uangnya berupa insentif atau bonus, dengan catatan tanpa perjanjian terlebih dulu baik nominal maupun persentase dan ini murni merupakan kebijakan bank sebagai pengguna uang. Pemberian jasa berupa insentif atau bonus biasanya digunakan istilah nisbah atau bagi hasil antara bank dengan nasabah. Bonus biasanya diberikan kepada nasabah yang memiliki dana rata-rata minimal yang telah ditetapkan.

Dalam praktiknya nisbah antara bank (shahibul maal) dengan deposan (mudharib) biasanya bonus untuk giro wadiah sebesar 30%, nisbah 40%:60% untuk simpanan tabungan dan nisbah 45%:55% untuk simpanan deposito.

Contoh rekening giro Wadiah :

Tn. Baris memiliki rekening giro wadiah di Bank Muamalat Sungailiat dengan saldo rata-rata pada bulan Mei 2002 adalah Rp 1.000.000,-. Bonus yang diberikan Bank Muamalat Sungailiat kepada nasabah adalah 30% dengan saldo rata-rata minimal Rp 500.000,-. Diasumsikan total dana giro wadiah di Bank Muamalat Sungailiat adalah Rp 500.000.000,-. Pendapatan Bank Muamalat Sungailiat dari penggunaan giro wadiah adalah Rp 20.000.000,-.

Pertanyaan : Berapa bonus yang diterima oleh Tn. Baris pada akhir bulan Mei 2002.

Jawab :

_Bonus yang diterima  =       Rp 1000.000        x  Rp 20.000.000,-  x  30 %  Tn. Baris                                                                   Rp 500.000.000,-  (sebelum dipotong pajak)

=       Rp 12.000,-_

Contoh Perhitungan Keuntungan Tabungan Mudharabah :

Tn. Derani memiliki tabungan di Bank Syariah Pangkal Pinang. Pada bulan juni 2002 Saldo rata-rata tabungan Tn. Derani adalah sebesar Rp 10.000.000,-. Perbandingan bagi hasil (nisbah) antara Bank Syariah Pangkal Pinang dengan deposan adalah 40%:60%. Saldo rata-rata tabungan per-bulan di seluruh Bank Syariah Pangkal Pinang adalah Rp 10.000.000.000,-. Kemudian pendapatan Bank Syariah Pangkal Pinang yang dibagihasilkan adalah Rp 40.000.000,-.

Pertanyaan : Berapa keuntungan Tn. Derani pada bulan yang bersangkutan.

Jawab :

_Keuntungan   =           Rp 10.000.000               x  Rp 40.000.000,-  x  60 %

Tn. Derani                                  Rp 10.000.000.000,-  (sebelum dipotong pajak)

=             Rp 24.000

Contoh Perhitungan Keuntungan Deposito Mudharabah :

Tn. Rahman Hakim memiliki deposito sebesar Rp 100.000.000, _untuk jangka waktu 1 bulan di Bank Syariah Belinyu. Bagi hasil (nisbah) antara Bank Syariah Belinyu dengan nasabah adalah 45%:55%. Saldo rata-rata deposito per bulan di Bank Syariah Belinyu adalah Rp 10.000.000.000,-. Kemudian pendapatan yang dibagihasilkan di Bank Syariah Belinyu adalah Rp 500.000.000, -.

Pertanyaan : Berapa keuntungan Tn. Rahman Hakim dari nisbah yang ditetapkan.

Jawab:

_Keuntungan =           Rp 100.000.00              x  Rp 500.000.000,- x   55% nasabah                                                   Rp10.000.000.000   ,-(sebelum dipotong pajak

=           Rp 2.750.000,_-

2.         Pembiayaan dengan bagi basil

a. Al-musyarakah

Al-musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau le_bih untuk melakukan usaha tertentu. Masing-masing pihak membe_rikan dana atau amal dengan kesepakatan bahwa keuntungan atau resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

AI-musyarakah dalam praktik perbankan diaplikasikan dalam hal pembiayaan proyek. Dalam hal ini nasabah yang dibiayai dengan bank sama-sama menyediakan dana untuk melaksanakan proyek tersebut. Keuntungan dari proyek dibagi sesuai dengan kesepakatan untuk bank setelah terlebih dulu mengembalikan dana yang dipakai nasabah. Al-musyarakah dapat pula dilakukan untuk kegiatan investasi seperti pada lembaga keuangan modal ventura.

b.         AI-mudharabah

Pengertian AI-mudharabah adalah akad kerja sama antara dua pihak, di mana pihak pertama menyediakan seluruh modal dan pihak lain menjadi pengelola. Keuntungan dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Apabila rugi maka akan ditanggung pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat dari kelalaian si pengelola. Apabila kerugian diakibatkan kelalaian pengelola, maka si pengelolalah yang bertanggung jawab.

mudharabah muthlaqah merupakan kerja sama antara pihak pertama dan pihak lain yang cakupannya lebih luas. Maksudnya tidak dibatasi oleh waktu, spesifikasi usaha dan daerah bisnis.

mudharabah muqayyadah merupakan kebalikan dari mudharabah muthlaqah di mana pihak lain dibatasi oleh waktu spesifikasi usaha dan daerah bisnis.

Dalam dunia perbankan Al-mudharabah biasanya diaplikasikan pada produk pembiayaan atau pendanaan seperti, pembiayaan mo_dal kerja. Dana untuk kegiatan mudharabah diambil dari simpanan tabungan berjangka seperti tabungan haji atau tabungan kurban. Dana juga dapat dilakukan dari deposito biasa dan deposito spesial yang dititipkan nasabah untuk usaha tertentu.

c.          Al-muzara’ah

Pengertian AI-muzara’ah adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dengan penggarap. Pemilik lahan menyediakan lahan kepada penggarap untuk ditanami produk pertanian dengan imbalan bagian tertentu dari hasil panen. Dalam dunia perbankan ka_sus ini diaplikasikan untuk pembiayaan bidang plantation atas dasar bagi hasil panen.

d.   Al-musaqah

Pengertian AI-musaqah merupakan bagian dari al-muza’arah yaitu penggarap hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan pe_meliharaan dengan menggunakan dana dan peralatan mereka sendiri. Imbalan tetap diperoleh dari persentase hasil panen pertanian. Jadi tetap dalam konteks adalah kerja sama pengolahan pertanian antara pemilik lahan dengan penggarap.

3.         Bai’al Murabahah

Pengertian Bai’al-Murabahah merupakan kegiatan jual beli pada harga pokok dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam hal ini penjual harus terlebih dulu memberitahukan harga pokok yang ia beli ditambah keuntungan yang diinginkannya.

Sebagai contoh harga pokok barang “X” Rp 100.000,-. Keuntungan yang diharap_kan adalah sebesar Rp 5.000,-, sehingga harga jualnya Rp 105.000,-. Kegiatan Bai’al-Murabahah ini baru dilakukan setelah ada kesepa_katan dengan pembeli, baru kemudian dilakukan pemesanan. Dalam dunia perbankan kegiatan Bai’al-Murabahah pada pembiayaan pro_duk barang-barang investasi baik dalam negeri maupun luar negeri seperti Letter of credit atau lebih dikenal dengan nama L/C.

4.         Bai’as-salam

Bai’as-salam artinya pembelian barang yang diserahkan kemu_dian hari, sedangkan pembayaran dilakukan di muka. Prinsip yang harus dianut adalah harus diketahui terlebih dulu jenis, kualitas dan jumlah barang dan hukum awal pembayaran harus dalam bentuk uang.

Sebagai contoh seorang petani lada yang bernama Tn. Ivan Pratama hendak menanam lada dan membutuhkan dana sebesar Rp 200.000.000, untuk satu hektar. Bank Syariah Toboali menyetujui dan melakukan akad di mana Bank Syariah Toboali akan membeli hasil lada tersebut sebanyak 10 ton dengan harga Rp 200.000.000,-. Pada saat jatuh tempo petani harus menyerahkan lada sebanyak 10 ton. Kemudian Bank Syariah Toboali dapat menjual lada ter_sebut dengan harga yang relatif lebih tinggi misalnya Rp 25.000,- per. kilo. Dengan demikian penghasilan bank adalah 10 ton x Rp 25.000, = Rp 250.000.000,-. Dari hasil tersebut Bank Syariah Toboali akan memperoleh keuntungan sebesar Rp 50.000.000,-. setelah dikurangi modal yang diberikan oleh Bank Syariah Toboali yaitu Rp 250.000.000,_ dikurangi Rp 200.000.000,-.

5.         Bai’Al istishna’

Bai’ Al istishna’ merupakan bentuk khusus dari akad Bai’as_salam, oleh karena itu ketentuan dalam Bai` Al istishna’ mengikuti ketentuan dan aturan Bai’as-salam. Pengertian Bai’ Al istishna’ adalah kontrak penjualan antara pembeli dengan produsen (pembuat ba_rang). Kedua belah pihak harus saling menyetujui atau sepakat lebih dulu tentang harga dan sistem pembayaran. Kesepakatan harga dapat dilakukan tawar-menawar dan sistem pembayaran dapat dilakukan di muka atau secara angsuran per bulan atau di belakang.

6.         Al-Ijarah (Leasing)

Pengertian Al-Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri. Dalam praktiknya kegiatan ini dilakukan oleh perusahaan leasing, baik untuk kegiatan operating lease maupun financial lease.

7.         Al-Wakalah (Amanat)

Wakalah atau wakilah artinya penyerahan atau pendelegasian atau pemberian mandat dari satu pihak kepada pihak lain. Mandat ini harus dilakukan sesuai dengan yang telah disepakati oleh si pem_beri mandat.

8.         Al-Kafalah (Garansi)

Al-Kafalah merupakan jaminan yang diberikan penanggung ke_pada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. Dapat pula diartikan sebagai pengalihan tanggung jawab dari satu pihak kepada pihak lain. Dalam dunia perbankan dapat di_lakukan dalam hal pembiayaan dengan jaminan seseorang.

9.         Al-Hawalah

Al-Hawalah merupakan pengalihan utang dari orang yang ber_utang kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Atau dengan kata lain pemindahan beban utang dari satu pihak kepada lain pi_hak. Dalam dunia keuangan atau perbankan dikenal dengan kegiatan anjak piutang atau factoring.

10.       Ar-Rahn

Ar-Rahn merupakan kegiatan menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Kegiatan seperti ini dilakukan seperti jaminan utang atau gadai.

III.PERBEDAAN BANK SYARIAH DENGAN BANK KONVENSIONAL

A.Bank Syariah

  1. Islam memandang harta yang dimiliki oleh manusia adalah titipan/amanah Allah SWT sehingga cara memperoleh, mengelola, dan memanfaatkannya harus sesuai ajaran Islam
  2. Bank syariah mendorong nasabah untuk mengupayakan pengelolaan harta nasabah (simpanan) sesuai ajaran Islam
  3. Bank syariah menempatkan karakter/sikap baik nasabah maupun pengelola ank pada posisi yang sangat penting dan menmpatkan sikap akhlakul karimah sebagai sikap dasar hubungan antara nasabah dan bank
  4. Adanya kesamaan ikatan emosional yang kuat didasarkan prinsip keadilan, prinsip kesederajatan dan prinsip ketentraman antara Pemegang Saham, Pengelola Bank dan Nasabah atas jalannya usaha bank syariah
  5. Prinsip bagi hasil:
    1. Penentuan besarnya resiko bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung dan rugi
    2. Besarnya nisbah bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh
    3. Jumlah pembagian bagi hasil meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan
    4. Tidak ada yang meragukan keuntungan bagi hasil
    5. Bagi hasil tergantung kepada keuntungan proyek yang dijalankan. Jika proyek itu tidak mendapatkan keuntungan maka kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak

 

B.Bank Konvensional

  1. Pada bank konvensional, kepentingan pemilik dana (deposan) adalah memperoleh imbalan berupa bunga simpanan yang tinggi, sedang kepentingan pemegang saham adalah diantaranya memperoleh spread yang optimal antara suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman (mengoptimalkan interest difference). Dilain pihak kepentingan pemakai dana (debitor) adalah memperoleh tingkat bunga yang rendah (biaya murah). Dengan demikian terhadap ketiga kepentingan dari tiga pihak tersebut terjadi antagonisme yang sulit diharmoniskan. Dalam hal ini bank konvensional berfungsi sebagai lembaga perantara saja
  2. Tidak adanya ikatan emosional yang kuat antara Pemegang Saham, Pengelola Bank dan Nasabah karena masing-masing pihak mempunyai keinginan yang bertolak belakang
  3. Sistem bunga:
    1. Penentuan suku bunga dibuat pada waktu akad dengan pedoman harus selalu untung untuk pihak Bank
    2. Besarnya prosentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkanPenentuan suku bunga dibuat pada waktu akad dengan pedoman harus selalu untung untuk pihak Bank
    3. Jumlah pembayaran bunga tidak mengikat meskipun jumlah keuntungan berlipat ganda saat keadaan ekonomi sedang baik
    4. Eksistensi bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama termasuk agama Islam
    5. Eksistensi bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama termasuk agama Islam
    6. Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi

Melihat gagasannya yang ingin membebaskan diri dari mekanisme bunga, pembentukan bank Islam mula-mula banyak menimbulkan keraguan. Hal tersebut muncul mengingat anggapan bahwa sistem perbankan bebas bunga adalah sesuatu yang mustahil dan tidak lazim, sehingga timbul pula pertanyaan tentang bagaimana nantinya Bank Islam tersebut akan membiayai operasinya. Disinilah PLS masuk, menggantikan sistem bunga dengan sistem profit and loss sharing (bagi untung dan rugi) sebagai metode alokasi sumber daya.Pada dasarnya dalam prinsip bagi hasil ada empat akad utama yaitu al musyarakah, al mudharabah, al muzara ah dan al musaqah. Tetapi yang diaplikasikan sementara ini masih terbatas pada 2 yaitu al musyarakah dan al mudharabah.

Al mudharabah adalah akad kerjasama antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lain (mudharib) menjadi pengelola, dimana keuntungan usaha dibagi dalam bentuk prosentase (nisbah) sesuai kesepakatan, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola, apabila kerugian itu diakibatkan oleh kelalaian si pengelola maka si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut. Al-mudharabah dibedakan dalam mudharabah muthlaqah dan mudharabah muqayyadah. Mudharabah muthlaqah adalah bentuk kerjasama antara antara shahibul maal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu dan daerah bisnis. Sedangkan mudharabah muqayyadah (restricted mudharabah / specified mudharabah) mudharib dibatasi dengan batasan jenis usaha, waktu dan tempat usaha.

Prinsip bagi hasil dalam bank syariah diterapkan pada simpanan nasabah dan pembiayaan syariah. Pada simpanan nasabah berlaku mudharabah muthlaqah dengan tujuan agar bank mempunyai keleluasaan dalam melakukan pengelolaan dana. Sedangkan, pada pembiayaan syariah diterapkan mudharabah muqayyadah yang bertujuan agar bank dapat menerapkan prinsip kehati-hatian bank sebagaimana diatur dalam pasal 2 UUP terhadap calon pengelola dana. Hal ini karena dana yang dipergunakan oleh bank syariah dalam menyalurkan dana pada pembiayaan sebagian besar berasal dari dana simpanan nasabah.

Setiap pembiayaan yang disalurkan oleh bank syariah tidak lepas dari risiko yang timbul. Jaminan merupakan hal penting untuk diperhitungkan bagi bank sebagai sumber pelunasan bilamana nasabah mengalami kegagalan pembiayaan syariah. Hal ini berkaitan juga dengan perwujudan mengenai ramburambu kesehatan sebagaimana diatur dalam pasal 8 jo pasal 29 UUP.

Walaupun pada prinsipnya, dalam pembiayaan mudharabah yang berdasarkan prinsip bagi hasil, bank tidak diperkenankan meminta jaminan apapun dari nasabah yang bersangkutan yang bertujuan untuk menjamin modal (dari bank yang di berikan kepada nasabah), dalam hal terjadi kerugian dimana kerugian itu tidak diakibatkan kelalaian pengelola dana (mudharib).

IV.PROSPEK PERBANKAN SYARIAH

Tidak bias dibantah,bahwa perbankan syariah mempunyai potensi dan prospek yang sangat bagus untuk di kembangkan di Indonesia . Prospek yang baik ini setidaknya ditandai oleh lima hal :

v  Pertama jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas beragama  islam merupakan pasr yang potensial bagi pengembangan bank syariah di Indonesia. Sampai saat ini pangsa pasar yang besar itu belum tergarap secara signifikan.

v  Kedua,Perkembangan lembaga pendidikan tinggi yang mengajarkan ekonomi syariah semakin pesat,baik S1,S2,S3 jugaD3.Dalam lima tahun kedepan akan lahir sarjana-sarjana ekonomi islam yang memiliki paradikma ,pengetahuan dan wawasan ekonomi syariah yang komprehensip,tidak seperti sekarang,banyak yang menolak system ekonomi syariah karena belum memiliki pengetahuan yang mendalam tentang ekonomi syariah.

v  Ketiga bahwa fatwa MUI tentang keharaman bunga bank,bagaimanapun akan tetap berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi syariah.Paska fatwa MUI tersebut,terjadi shifting dana masyarakat dari bank konvensional ke bank syariahsecara signifikan yang meningkat dari bulan-bulan sebelumnya.Menurut data Bank Indonesia dalam waktu satu bulan pasca fatwa MUI,dana pihak ketiga yang masuk ke perbankan syariah hampir Rp 1 triliun.Fatwa ini semakin mendapat dukungan dari para sarjana ekonomi islam.

v  Keempat,Harapan kita kepada sikap pemerintah cukup besar untuk berpihak pada kebenaran,keadila dan kemakmuran rakyat. Political will pemerintah untuk mendukung pengembangan perbankan syariah di Indonesia tinggal menunggu waktu,lama kelamaan mereka akan sadar juga dan melihat keunggulan bank syariah.Sejumlah pemda di daerah telah mendukung dan bergabung membesarkan bank-bank syariah .

v  Kelima,Masuknya lembaga-lembaga keuangan internasional kedalam jasa keuangan perbankan di Indonesia sesungguhnya merupakan indicator bahwa usaha perbankan syariah di Indonesia memang prosfektif dan di percaya oleh para investor dari luar negri.

v.KESIMPULAN DAN SARAN

 

v  Kesimpulan

Bahwa seungguhnya konsep perbankan syariah adalah konsep yang sesuai dengan hukum dan landasan agama islam,terutama bank syariah maupun produk-produk perbankan syariah lainnya karena terbebas dari riba,maisyr,gharar dan haram yang sangat dilarang oleh agama islam.terlebih dari pada itu sebagian besar penduduk Indonesia adalah umat muslim maka diharapkan perkembangan bisnis bisnis yang berlandaskan syariah di Indonesia diharapkan dapat maju dan berkembang semakin pesat demi berkembangnya perekonomian umat islam pada umumnya dan seluruh penduduk Indonesia pada khususnya.

v  Saran

Dilihat dari manfaat dan keuntugan-keuntungan dari konsep perbankan syariah sendiri,seharusnya masyarakat mulai menggunakan produk-produk perbankan syariah sebagai tempat penyimpanan modal maupun usahanya.

Seiring dengan perkembangan system ekonomi syariah di Indonesia seharusnya pamerintah juga mulai memisahkan system perbankan syariah dengan system perbankan konvensional karena selama ini sistem keuangan syariah masih di pegang oleh BANK INDONESIA yang nota bene masih menggunakan system-sistem barat (liberal).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s